Tampilkan postingan dengan label TV LOKAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TV LOKAL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2008

tv LOKAL, mASALAH DAN TANTANGAN

Blog yang kaya tentang TV lokal dan masalahnya, terutama berkaitan dengan regulasi.

http://televisikecil.wordpress.com/category/televisi-lokal/


Bangkitlah Televisi Lokal !: Menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada persoalan sulitnya mendapatkan share iklan ( MZ Al-Faqih, Kompas Jawa Barat, 5 September 2006 ).

Televisi Lokal dan Budaya Lokal : kemunculan stasiun televisi lokal juga tak beda dengan televisi swasta nasional yang terkesan tanpa persiapan, selain sekadar hanya membaca peluang, terutama peluang bisnis. Berdasarkan pengamatan, keberadaannya tidak lebih hanya sekadar replika stasiun televisi nasional yang telah jauh lebih populer dan banyak diakses masyarakat. ( Gunawan Witjaksana, Kompas Jawa Tengah, 14 Oktober 2006 ). Berita Kriminal dalam Televisi Lokal : Skandal, yang berarti perilaku yang tidak baik dan menimbulkan perasaan malu atau aib yang bisa merontokkan martabat seseorang, berubah menjadi hiburan sensasional di tangan jurnalis televisi lokal yang menerapkan tabloidisasi ( Triyono Lukmantoro, Kompas Yogyakarta, 20 Desember 2006 ).

Gaya Hidup dalam Televisi Lokal : Setidaknya dua televisi lokal di wilayah Jakarta, O Channel serta Jak TV, niscaya menjadi tontonan alternatif warga Jakarta di samping beberapa stasiun nasional yang mapan. Satu stasiun lagi, Spacetoon, lebih menyasar pangsa pemirsa anak-anak dan menjadi tontonan alternatif keluarga ( Susi Iwaty, Kompas 21 Januari 2007 ).Menjual Rumah demi Sinetron : Meskipun pengelola stasiun televisi lokal belum bisa berkontribusi banyak pada pengembangan film berformat Jatim, setidaknya sampai sekarang stasiun televisi lokal belum membeli film berciri Jatim. Beberapa stasiun malah meminta bayaran untuk menayangkan film dan sinetron lokal ( Kris Razianto Mada, Kompas Jawa Timur, 30 Maret 2007 ).

Siaran Lokal Rangsang Pertumbuhan Budaya : Sebanyak 90 persen dari 14 kanal televisi UHF yang dimiliki DI Yogyakarta masih dikuasai oleh televisi Jakarta. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah DIY telah melayangkan surat ke televisi Jakarta agar mulai membuka jaringan sendiri. “KPID harus terus memperjuangkan hak kanal ini untuk perkembangan televisi lokal. Televisi Jakarta harus membuka jaringan sendiri atau hengkang dari DIY,” ( Kompas Yogyakarta, 26 April 2007 ).

Penguatan Desentralisasi Penyiaran Televisi: Bagi dunia pertelevisian Indonesia, 2007 merupakan tahun penuh harapan bagi terciptanya sistem penyiaran (TV) yang demokratis. Sejak munculnya penyiaran TV yang pertama di Indonesia tahun 1962 sampai sekarang penyelenggaraan penyiaran kita masih sentralistik, dimonopoli oleh “Jakarta” (Antonius Darmanto, Kedaulatan Rakyat 16 Juni 2007).



Seputar Televisi Lokal [ 2 ]

Ditulis oleh Galeri Video Foundation di/pada 5 Oktober, 2007

TV Lokal antara Wayang dan Pengobatan Alternatif : Bila diurut ke belakang, kita tahu bahwa kelahiran televisi lokal merupakan kecelakaan sejarah belaka. Sistem komunikasi Indonesia tidak ditata berdasarkan kebutuhan lokal, tetapi serba sentralisasi. Sebelas stasiun televisi kita diset sejak awal untuk bersiaran secara nasional ( Dian Wardiana Sjuchro, Kompas Jawa Barat, 9 Juli 2007 ).

Investasi Lokal Melalui Televisi Lokal : Akhir tahun ini, stasiun televisi yang melakukan siaran nasional mau tidak mau harus melakukan kerja sama jaringan dengan stasiun televisi lokal. Keharusan ini semata-mata sebagai amanat dari Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 ( Dede Mulkan, Kompas Jawa Barat, 19 Juli 2007 ). Akhir Desember 2007: TV Swasta Siaran Lokal: Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkoinfo) Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh mengingatkan kepada seluruh pengelola televisi swasta nasional agar pada akhir Desember 2007 sudah melaksanakan program siaran muatan lokal (Kedaulatan Rakyat, 13 Agustus 2007).

Swasta dan Nilai Lokal dalam Televisi Kita: Tak banyak yang memuat pernyataan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Prof Dr Ir Muhammad Nuh, tentang batas akhir siaran nasional televisi swasta kita. Bahkan media-media “besar” di Jakarta pun, tidak tertarik dengan berita itu (Sunardian Wirodono, Kedaulatan Rakyat 22 Agustus 2007).Jalan Terjal Televisi Berjaringan : Bisa jadi, siapa pun saat ini yang bergerak dalam industri televisi swasta pasti berdebar menunggu keputusan Komisi Penyiaran Indonesia tentang sistem siaran berjaringan. Pasalnya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 telah mengamanatkan kepada KPI untuk menyusun sistem siaran berjaringan bagi lembaga penyiaran swasta untuk siap menjalankan sistem berjaringan pada Januari 2008. (Iswandi Syahputra, Kompas Jawa Tengah 25 Agustus 2007).

Televisi Swasta Harus Mematuhi Sistem Berjaringan : JIKA UU No 32/2002 tentang Penyiaran secara konsekuen dilaksanakan, maka mulai 28 Desember 2007 akan terjadi perubahan yang sangat mendasar dalam konfigurasi lembaga penyiaran swasta jasa penyiaran televisi yang memenuhi ruang publik daerah (Ki Gunawan, Kedaulatan Rakyat 3 September 2007).

Ade Armando: (Seharusnya) Tak Ada Lagi Stasiun Televisi Nasional : Harian Kompas edisi 9 Februari 2007 memuat tulisan Ishadi SK berjudul ‘’KPI, Regulasi Siaran TV dan Radio’’. Dalam tulisan itu, ia secara tidak langsung mengecam gagasan tentang kewajiban pengembangan sistem jaringan televisi nasional sebagai pengganti stasiun televisi nasional sebagaimana diamanatkan UU Penyiaran 2002. (Ade Armando, 30 Agustus 2007)

Potret TV Lokal di Indonesia

Modal Rp 2 M sampai Rp 20 M. Masalah sama: iklan nasional sedikit, iklan lokal belum tumbuh. Biaya operasional tinggi, demikian juga investasi. Pemain bisnis TV lokal dari pemilik koran, anggota DPRD, hingga pengusaha lokal. Ada yang berkantor di gedung mentereng, ada juga yang menyulap bengkel jadi kantor.
Ada tuduhan: pengelola TV lokal tidak cukup memahami pemirsa lokal, begitu pula potensi pemasang iklan.
Satu yang sama: semua menjawab dominasi TV nasional di daerah dengan menyajikan program berbau lokal: bahasanya, beritanya, seninya. Tidak ada cara kreatif lain?
Menariknya, iklan belum masuk ke TV, kegiatan off air malah menjanjikan di beberapa stasiun TV.
Skala bisnisnya kurang lebih sama dengan koran lokal, ada bahkan yang lebih kecil. Ada yang pendapatannya cuma Rp 15 juta sebulan, sementara koran lokal yang sehat --dengan biaya operasional yang tidak sedahsyat TV-- mampu menghasilkan Rp 3 miliar sampai Rp 4 miliar sebulan. Kecuali prospeknya barangkali, dari sisi ini, koran lokal mestinya lebih menjanjikan ketimbang TV. Entahlah kalau 10 tahun lagi.


http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=2161&pageNum=9

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Stasiun TV lokal makin manjamur di berbagai daerah. Toh, seiring itu, beberapa lokal hanya tinggal nama alias bangkrut. Bagaimana prospeknya?

"Diancuk, matek koen!" ("Sialan, mati kamu!"). Sssst, jangan kaget. Bukan bermaksud mengumpat Anda, pembaca. Ungkapan misuh khas arek Suroboyo itu dilontarkan seorang pemain dalam tayangan film barat yang disulihsuarakan ke dalam bahasa Suroboyoan. Tentu saja, film model begitu tidak akan dijumpai dalam program film tayangan RCTI, SCTV, Trans TV, atau stasiun TV swasta nasional lainnya. Tayangan film dengan bahasa yang akrab dipakai masyarakat Kota Buaya ini hanya bisa dilihat di JTV.


Stasiun TV yang mengover kawasan Jawa Timur, kecuali Kabupaten Pacitan, ini juga menyajikan tayangan-tayangan lain, termasuk berita. Walhasil, orang Amerika juga akan menyapa pemirsa JTV dengan gaya Suroboyoan saat tayangan Voice of America. Begitu juga program Pojok Kampung. Program berita yang menampilkan beragam berita yang terjadi di Ja-Tim disajikan dalam bahasa yang terbuka dan apa adanya. "Semua program yang kami tayangkan memang harus mengakar pada budaya Jawa Timur," ungkap Arif Afandi, Direktur News JTV. Mulai dari berita, dialog, budaya sampai hiburan, semuanya berpijak pada budaya Ja-Tim.


Sejak mengudara pada 26 Mei 2002, Bali TV secara konsisten juga menghadirkan beragam acara yang kental dengan kehidupan spiritual masyarakat Bali. Stasiun ini sadar betul daya jangkau siarannya memang terbatas hanya untuk daerah Bali dan sekitarnya. Karena itu, stasiun yang berada pada jalur frekuensi 37 dan 39 UHF ini mematok 90% program acaranya merupakan program lokal yang kental dengan suasana Bali. "Program tayangannya kami kemas sedekat mungkin dengan keseharian masyarakat Bali," ungkap CEO Bali TV Satria Naradha.


Muatan lokal. Itulah yang coba dimunculkan stasiun TV lokal sebagai pencitraan, karakter, sekaligus kekuatan mereka. Dan, sudah tentu, sebagai daya pikat untuk menarik pemirsa dan pemasang iklan. Tak pelak, mereka berlomba menyuguhkan aneka program yang dapat mengakomodasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat setempat. Termasuk, menggunakan pengantar bahasa daerah, seperti yang dilakukan JTV.




Halaman [ 1 2 3 4 5 ... Selanjutnya >>| ] dari 9

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Satria mengatakan, semua program acara Bali TV, dari berita, agama, kebudayaan, pariwisata hingga ekonomi memang sengaja dikemas sarat suasana Bali untuk mengimbangi TV nasional yang siarannya juga bisa ditangkap masyarakat Bali. Bahkan, tayangan serial film ditampilkan dengan memutar film India yang berhubungan dengan agama Hindu yaitu Ramayana, Ganesha dan Om Nama Siwayam. "Keunggulan acara kami memang segala sesuatu yang berhubungan dengan Bali secara menyeluruh. Ini kami lakukan untuk menjaga keajekan Bali," jelasnya.


Magnitude kedaerahan yang diusung TV lokal itulah yang juga diharapkan dapat meraup iklan besar, seperti yang dikantongi stasiun TV nasional. Begitu menggiurkannya prospek bisnis ini membuat banyak pengusaha ramai-ramai menerjuni ladang bisnis ini. Sampai sekarang, tak kurang dari 30-an TV lokal hadir memadati jalur frekuensi jagat pertelevisian di Indonesia (lihat Tabel).


Stasiun TV di Jakarta, yang sudah disesaki 9 stasiun TV nasional, pun akan bertambah dengan kehadiran O-Channel milik Grup MRA. Bogor juga sudah ancang-ancang mengorbitkan Bogor TV. Bahkan, kabarnya, masih ada puluhan stasiun TV lokal yang tengah antre menunggu izin penyiaran. Kawasan Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang), tampaknya menjadi wilayah yang menjadi rebutan para pemilik modal untuk mendirikan TV lokal. Kalau tidak ada aral melintang, di tiga kota itu tidak lama lagi bakal hadir 9 TV lokal. Sampai akhir tahun ini, paling tidak sudah ada 6 yang mengudara.


Di Semarang ada BTV (Borobudur TV) milik Hengki Gunawan, Pro TV milik Leo Sutanto dan Cakra TV milik Satria Naradha yang juga bos Bali TV. Tidak lama lagi, di ibu kota Jawa Tengah ini juga akan muncul TV Kita. Sementara di Yogyakarta, sejak Agustus tahun lalu ada dua televisi baru yang sudah mengudara, yakni RBTV yang dikelola Grup Retjo Buntung dan Jogja TV yang dimiliki Satria berpatungan dengan GBPH Prabukusumo, adik kandung Sri Sultan HB X. Sebenarnya, menurut rencana ada tiga televisi lokal yang akan muncul di Yogya. Namun Tugu TV yang dikelola Faried Soeparjan, pengusaha peralatan siaran, hingga kini belum muncul juga. Padahal, Faried disebut-sebut sudah menginvestasikan Rp 2 miliar untuk membangun pemancar. Tugu TV sempat muncul dalam bentuk colour bar, tapi senyap lagi tidak diketahui kabarnya.


Maraknya TV lokal ini juga disambut gembira para biro iklan. "Kami makin senang karena makin banyak pilihan," ungkap Direktur Media JC&K Advertising Judy Uway. Menurutnya, TV lokal dibutuhkan oleh produk yang ingin menambah bobot persaingan dengan kompetitor yang kuat di suatu daerah.





Halaman [ |<<>>| ] dari 9

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Hanya saja, dengan coverage terbatas, bisakah TV lokal menarik para pemasang iklan kakap yang notabene berada di Ibu Kota, tempat mangkal 9 stasiun TV swasta yang mengudara secara nasional? Belum lagi, peralatan, SDM dan permodalan stasiun TV lokal umumnya terbatas bila dibanding TV nasional. Untuk mendirikan stasiun yang menjangkau seantero Tanah Air dibutuhkan dana sampai ratusan miliar. Sementara TV lokal, paling banter perlu modal puluhan miliar. Bahkan, ada beberapa stasiun TV lokal yang mengudara dengan modal ratusan juta rupiah saja.


Dengan segala keterbatasan yang dimiliki itu, tak pelak stigma sulit mendapat guyuran iklan makin melekat pada TV lokal. Terlebih melihat fakta stasiun TV nasional saja ada yang megap-megap karena tak mampu bersaing dengan pemain lain. Dan, kalaupun stasiun TV itu tetap terlihat eksis bukan semata dipicu oleh gerojokan iklan, melainkan permodalan yang kuat yang membuatnya bisa bernapas panjang.


Pengamat pertelevisian Veven Sp. Wardhana memandang pesimistis kehadiran TV lokal. Menurutnya, menjamurnya TV lokal karena pengelolanya membayangkan akan meraup pundi-pundi uang dari iklan. Padahal, ia menilai program tayangan yang ditawarkan TV lokal tidak berbeda bahkan mengopi TV nasional. Ia mencontohkan Bali TV yang menayangkan acara serupa program Tantangan (Indosiar) dengan tajuk Bali Nekad. "Sama saja, mengapa tidak dicari format lain," tambahnya. Beragam tayangan TV lokal yang mengacu pada TV nasional itu dinilainya sebagai sikap tidak mau repot dan hanya mencari gampangnya. Padahal, biaya untuk menggelindingkan bisnis stasiun TV sangat mahal, bisa mencapai triliunan rupiah. "Sementara yang diraih tidak bisa menutupi biaya tersebut. Saya agak ragu. Jangankan TV lokal, TV nasional yang berdaya jangkau nasional saja ada yang megap-megap, apalagi TV lokal," katanya.


Benarkah TV lokal sulit merayu pemasang iklan? Meski tak mau berbicara secara detail investasi yang telah dibenamkan Bali TV, Satria optimistis bisnisnya akan menggelinding. Ia bersyukur selama tiga tahun mengudara, Bali TV mampu bersaing dengan TV nasional yang lebih dulu hadir di Bali. Malah, ia mengatakan, sinetron Memedi dan Kris (Kriminal Sepekan) mampu menempati rating 14 dan 18 menurut survei AC Nielsen, bersaing dengan sineton produksi Jakarta. Menurutnya, secara keseluruhan Bali TV, menurut survei untuk daerah Bali dan sekitarnya, selalu menempati urutan ke-4 di bawah Indosiar, SCTV dan RCTI.





Halaman [ |<<>>| ] dari 9

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Bila pada awal berdirinya Bali TV hanya mengandalkan iklan lokal, sejak 2004 terjadi kecenderungan peningkatan iklan nasional. Walhasil, target iklan 12 menit per jam tayangan selalu bisa terpenuhi, apalagi pada prime time. "Untuk acara-acara lain, rata-rata sudah terisi hingga 75%," ungkap Satria. Namun, pada acara siang hari pasokan iklan baru mencapai 40%. "Untuk acara-acara yang disiarkan secara langsung seperti BRTV, Lomba Lawak, Lomba Dalang Cilik, kami malah terpaksa menolak iklan," kata Satria yang juga Ketua Asosiasi TV Lokal yang berencana mendirikan sekolah khusus untuk televisi program Diploma 1.


Nada optimistis juga disampaikan Direktur Riau TV (RTV) dan Batam TV Rida K. Liamsi. "Tahun ini Riau TV kami targetkan mampu membukukan penghasilan kotor pada kisaran Rp 700-800 juta," kata Rida. Hanya saja, diakuinya, angka tersebut memang masih belum mampu menutupi seluruh beban investasi yang ditanamkan RTV. Stasiun TV lokal pertama di Indonesia ini hadir sejak 20 Mei 2001 dengan menelan investasi Rp 20 miliar. Diakui Rida, awalnya RTV berjalan sangat lamban. Respons dari agensi dan pemirsa tidak begitu menggembirakan. "Mereka banyak melakukan wait and see terhadap RTV," ujarnya. Apalagi, waktu pertama kali diluncurkan, daya pancarnya cuma 500 watt, hanya mengover wilayah kota Riau dan sekitarnya. Seiring berjalannya waktu yang disertai konsistensi pada muatan lokal, respons pasar mulai menggeliat. Walhasil, pada tahun pertama, RTV milik Grup Jawa Pos ini mampu membukukan rata-rata omset Rp 100 juta/bulan.


Angka itu memang belum mampu menutupi biaya operasional rutin. Toh, Rida tetap optimistia karena daya pancar RTV terus di-upgrade. Pada dasarnya, pemasang iklan memang melihat daya jangkau yang biasanya menggunakan indikator nilai cost per million, yakni biaya yang harus ditanggung buat satu orang pemirsa untuk mengenalkan produk. Saat ini, daya pancar RTV sebesar 10 kilowatt. Seiring itu, pembenahan program pun dilakukan dan posisi sebagai TV berita Riau terus diperkuat. Ia yakin, program berita lokal tidak akan disajikan secara utuh oleh TV nasional. "TV nasional tidak mungkin menelisik sampai ke tingkat kabupaten secara detail dan tiap hari," ungkapnya. Supaya tidak bertabrakan dengan program berita TV nasional, berita RTV disajikan sesudahnya.


Saat ini, RTV yang mengudara lebih dari 15 jam/hari, menurut Rida, mulai menempati ruang keluarga di hampir seluruh Riau daratan. Posisinya sebagai TV berita lokal makin kokoh. Dengan rate spot yang ditawarkan Rp 200 ribu per 30 detik, omset RTV terus meningkat. Tahun 2003, RTV mampu membukukan omset Rp 3 miliar atau meningkat 100% dari tahun sebelumnya. Tahun ini diprediksi mencapai Rp 4 miliar. Omset ini didapat dengan kerja keras dari seluruh tim. Misalnya, upaya awak pemasaran yang bergerilya melakukan pendekatan kepada pemasang iklan lokal secara langsung, mengundang para agensi kelas kakap Ibu Kota, mengikuti pameran TV lokal, sampai menawarkan kerja sama, seperti advertorial pada media cetak. "Pendapatan dari event organizer kami serahkan ke Riau Pos. Omset kami murni dari TV komersial," tegas Rida yang memperkirakan RTV bisa balik modal pada tahun ke-6.

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman


Bagaimana dengan Batam TV? Stasiun TV lokal yang juga berada di bawah payung Grup Jawa Pos ini rupanya tak semoncer saudaranya. Potret Batam TV yang baru siaran 1,5 tahun lalu ternyata buram. Dengan daya pancar pada posisi 1 kilowatt dan jam tayang hanya 5 jam, Batam TV terlihat tersengal-sengal mengudara. Padahal, positioning-nya sudah disesuaikan dengan kehidupan dan kondisi faktual Batam sebagai TV berita bisnis. Jangankan menuai untung, Batam TV harus menanggung kerugian Rp 500-600 juta/tahun. Toh, Rida tak patah arang. "Karena RTV sudah bisa kami tinggalkan, sekarang kami fokus di Batam TV untuk melakukan pembenahan-pembenahan," jelasnya.


Meskipun boleh jadi kondisi RTV dan Batam TV menggerogoti pundi-pundi uang Grup Jawa Pos, masih ada sebongkah asa yang dimiliki salah satu konglomerasi media ini. Menurut Arif, respons pemirsa dan pemasang iklan terhadap JTV luar biasa. "Repeat order atas pendapatan iklan sudah terjadi," tambah Eddy Nugroho, Direktur Pemasaran JTV. Dibanding RTV dan Batam TV, daya pancar JTV memang lebih kuat: 20 kilowatt dengan tambahan 7 repeater yang mampu menjangkau seluruh wilayah Ja-Tim. Toh, dikatakan Arief, program juga memegang peranan penting bagi sukses-tidaknya TV lokal. Dengan rata-rata omset Rp 2,6 mliar/bulan pada 2004, JTV sudah tidak disusui lagi oleh induknya, Grup Jawa Pos. Namun, menurut Eddy, JTV belum balik modal. "Kami perkirakan itu terjadi pada tahun 2007," ungkapnya.


Besaran pendapatan tersebut, menurut Eddy, tak semata berasal dari TV komersial. Sebesar Rp 600 juta didapat dari kegiatan off air yang masuk kategori event organizer. Misalnya, kerja sama dengan Indofood dalam memasarkan produknya atau dengan BuKrim lewat ajang Mencuci Bersama di Tugu Pahlawan, medio Desember tahun lalu. "Karena masih babat alas, semua harus dijalani, termasuk mencari pemasang iklan langsung tanpa lewat agensi," papar Eddy. Toh, ke depan, ia mengaku akan kulo nuwun pada agensi. "Supaya tidak tercipta persepsi bahwa kami menelikung agensi," tambah Eddy yang mengakui, pendapatan iklan JTV 60% berasal dari agensi.


Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Menurut Iwan Boediwanto, salah satu pemilik RBTV, pihaknya menargetkan total investasi sampai tiga tahun ke depan tidak akan melebihi Rp 10 miliar. "Apalagi, jika melihat minat pemasang iklan yang cenderung menggembirakan," katanya. Dijelaskan, sampai saat ini, dengan 30-an karyawan, RBTV memang masih harus menanggung biaya operasional Rp 100 juta/bulan, sementara pendapatan dari iklan rata-rata Rp 20-25 juta/bulan. "Saya optimistis, dalam waktu 2-3 tahun setidaknya bisa menutup seluruh biaya operasional," kata Iwan.


Nada optimistis juga disenandungkan pemilik BMS TV. Stasiun yang bermarkas di bekas bengkel milik salah seorang pemegang saham ini yakin, "Tivine Inyong" ini bisa menarik minat masyarakat setempat dan pemasang iklan. "Modal kami memang mepet sehingga kami harus pandai menyiasati, termasuk menggunakan tempat seadanya dulu," kata Firdaus Widiawan, Direktur PT Banyumas Citra yang mengoperasikan BMS TV.


BMS TV yang mengudara di channel 49 UHF ini bisa dibilang televisi lokal yang telah mengudara cukup lama. Ia mengudara sejak Maret 2003 dan terakhir telah melakukan siaran rata-rata selama 7 jam, pukul 15.00-22.00 WIB. Namun, belum semua materi siaran merupakan produksi sendiri. Sebagian masih me-relay siaran TPI. "Karena, di Banyumas hanya TPI yang belum bisa diterima siarannya di sini," katanya berdalih. BMS TV yang mengudara sejak Maret 2003 baru bisa menjangkau wilayah eks Karesidenan Banyumas yang mencakup Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara.


Untuk membangun BMS TV butuh investasi awal tidak kurang dari Rp 1,5 miliar. Dana ini merupakan patungan 5 orang, yakni Firdaus, Hari Subiyakto (mantan anggota DPRD Banyumas), Nuke M. Saleh (mantan anggota DPRD Banyumas), Yukri Nurfian dan Wahyu Sadewo (pengusaha). Menurut Firdaus, investasi itu sebagian besar digunakan untuk membeli infrastruktur dari pemancar hingga kamera. Katanya, dibanding televisi lokal lain, investasi ini mungkin terkecil. Sebab, tidak semua peralatan harus orisinal. "Ada beberapa yang kami bikin sendiri. Kalau ada yang bisa dibandrek, akan kami bandrek," kata lelaki yang juga direktur CV Cahaya yang bergerak di persewaan peralatan proyek ini.


Firdaus mengakui, meski sudah siaran hampir dua tahun, pihaknya masih terus merugi. Ini karena biaya operasional tidak seimbang dengan pendapatan iklan. Dengan 20 karyawan, biaya operasional per bulan sekitar Rp 30 juta. Sementara pendapatan iklan baru sekitar Rp 15 juta. Iklan yang masuk kebanyakan lokal. Sementara iklan nasional baru satu, yakni sabun BuKrim. "Tapi, saya optimistis," tandas Firdaus yang menargetkan pihaknya bisa balik modal dalam kurun 5 tahun ke depan. Pasalnya, ia melihat masyarakat dan pengusaha lokal menyambut antusias BMS TV.

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Meski masih menombok karena besar pasak ketimbang tiangnya, TATV di Solo juga memilih terus mengudara. Maklum, tak sedikit dana yang telah dikucurkan untuk membeli peralatan siaran yang termasuk paling canggih untuk ukuran TV lokal. Dengan dana Rp 5 miliar, TATV melengkapi peralatan studio dan pemancarnya dengan standar internasional. Ia mencontohkan, harga satu kamera sama dengan mobil Kijang Inova baru. Padahal, jumlah kamera yang dimiliki mencapai 15 unit. "Untuk memperoleh hasil yang bagus, kami memang harus menggunakan peralatan yang memadai, semua dijamin orisinal, tidak ada yang bandrekan," kata GM Produksi TATV R. Daniel B. Santoso. Masih menurut Daniel, sampai saat ini agaknya hanya TATV yang memiliki mobil OB Van dan Microwave. Dengan peralatan ini, mereka bisa melakukan siaran langsung dari luar studio, kapan pun diinginkan.


Bukan hanya peralatan modern yang dimiliki, stasiun TATV juga memiliki kantor operasional yang cukup representatif. Dibanding televisi lokal yang ada di Ja-Teng, mungkin hanya TATV yang memiliki gedung megah, yang mereka sulap dari gedung gereja, tepatnya Gereja Bethel Indonesia. TATV memang dimotori beberapa aktivis gereja. Salah satunya, Justus Budianto, pendeta yang juga pengusaha Roti Dika yang cukup tersohor di sekitar Solo.


Sementara ini, jangkauan siaran TATV mencapai eks Karesidenan Surakarta yang dikenal dengan kawasan Subosukowonosraten yang meliputi Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Karanganyar, Sragen dan Klaten. Menurut rencana, tak lama lagi akan dibangun pemancar di kawasan Bukit Pathuk, Gunung Kidul, dengan tujuan memperluas cover area hingga mencapai wilayah Provinsi DI Yogyakarta. "Jogja TV saja bisa ditangkap di Solo, masak kami yang di Solo tidak bisa ditangkap di Jogja," papar Daniel yang lulusan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN Yogya.


Pengelola TATV yakin, stasiun TV-nya bisa tumbuh menjadi televisi yang besar. "Apalagi, jika melihat potensi pasar sekitar Surakarta yang memiliki banyak perusahaan besar berkelas nasional bahkan multinasional, seperti Konimex, Air Mantjur dan Sritex," ungkap Daniel. Namun, tampaknya TATV masih harus berjuang keras. Pasalnya, sampai saat ini perolehan iklan baru mencapai 10% dan sebagian besar iklan lokal. Namun yang membanggakan, sudah ada beberapa iklan nasional yang masuk seperti Pepsodent dan Deltomed. Perolehan iklan ini tentu belum imbang dengan biaya operasional yang mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?
Kamis, 03 Februari 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Meski TV lokal terlihat masih megap-megap, bukan berarti tanpa harapan. Seperti diutarakan Ishadi SK. "Saya percaya, sebagian pemasang iklan akan lari ke daerah jika TV lokal memiliki magnitude kuat," katanya. Karena itu, ia menyarankan pengelola TV lokal bersabar dan tekun, serta mengelola bisnisnya secara baik dan sehat. "Pasti berhasil," tambahnya. Optimisme Ishadi ini sepertinya menjadi oasis bagi pemilik TV lokal yang saban bulan harus menyuntikkan dana untuk operasional.


Hanya saja, Ishadi menyayangkan sikap ketidakhati-hatian pemilik TV lokal yang mengibarkan stasiun TV tanpa melakukan penelitian mendalam. Seperti kondisi perekonomian daerah setempat, profil pemirsa, profil pemasang iklan, sampai keputusan siaran sekian puluh jam. Karena itu, ia khawatir produknya menjadi asal-asalan sehingga tidak disukai pemirsa yang berdampak pada pemasangan iklan. "Pemirsa sudah terbiasa dengan standar kualitas siaran nasional," tambahnya.


Ishadi sendiri menengarai, maraknya TV lokal ini boleh jadi karena adanya semangat para pengusaha yang ingin membangun iklan-iklan lokal atau menarik iklan nasional ke lokal atau sekadar mencari peluang, misalnya menjual kembali frekuensi yang telah dikantongi. "Karena frekuensi makin lama harganya makin mahal atau menunggu diberlakukannya UU Penyiaran di mana stasiun pusat harus bekerja sama dengan TV lokal," paparnya. UU Penyiaran No. 32/2002 tentang penyiaran memang memicu kelahiran TV-TV lokal. Hanya saja, tanpa kekuatan iklan, impian TV lokal untuk menyapa pemirsa dengan sentuhan lokal sekadar mimpi. Pasalnya, sampai kapan akan nombok terus?


Reportase: Farida Nawang Nurini, Gigin W. Utomo, Silawati dan Suhariyanto; Riset: Vika Octavia (swa)

TV LOKAL : MAMPUKAH MEREKA BERSAING ?

TV LOKAL : MAMPUKAH MEREKA BERSAING ?

(Drs. Wardi Wahid, MM - http://www.tvconsulto.com/)

PENGANTAR
Tulisan ini terutama ditujukan untuk menjawab secara umum pertanyaan saudara Arief seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pada sebuah PTS di Yogyakarta.
Inti pertanyaannya adalah :
Bagaimana strategi pemasaran TV Lokal dan apakah TV Lokal mampu bersaing , diterima masyarakatnya atau setidaknya mampu merebut sebagian kue iklan ?

PROGRAM DAN PENERIMAAN DARI IKLAN

Televisi merupakan bisnis yang tidak hanya memerlukan biaya investasi awal yang besar untuk pengadaan infrastruktur , peralatan produksi studio dan penyiaran (pemancar dan jaringan transmisi), melainkan juga memerlukan biaya operasional yang besar, terutama untuk biaya produksi dan pengadaan (pembelian) program.

Dukungan biaya operasional yang cukup dan stabil dari pemilik sangat menentukan kemampuan suatu stasiun TV untuk memproduksi dan menyiarkan program bermutu, menarik, diminati dan dibutuhkam masyarakat. Dukungan dana tersebut terutama pada tahun-tahun awal pengoperasiannya sampai mampu mandiri (setelah menguntungkan).
Dalam kaitan ini , menarik dan cukup relevan bagi pengelola TV Lokal mengenai apa yang disampaikan Byron G. Wells :

“……You are going to need many things before you even get close to going on the air – things like aspirin, money, aspirin, petience, aspirin, money ………
After a while, if your programming is good, if the advertising comes in and if you get a few lucky breaks, the station may start to pay…… In fact, you might even start drawing a bit of salary for yourself………”

Popularitas dan image merupakan kunci keberhasilan suatu stasiun televisi dalam merebut kue iklan atau memperoleh pendapatan dan keuntungan dari siaran komersial. Banyak faktor (variabel) yang menentukan image stasiun televisi, namun yang terpenting adalah mutu program siarannya dan kualitas penerimaan signal (reception quality) di masyarakat.
Karena pada gilirannya, program bermutu akan menarik (menghasilkan) banyak pemirsa – populer - dan pemirsa yang besar jumlahnya akan menarik bagi pemasang iklan (advertiser) untuk beriklan di stasiun yang bersangkutan.

Sebaliknya, image dan popularitas suatu stasiun TV akan terpuruk apabila tidak mampu menghadirkan program bermutu sehingga tidak menarik bagi pemasang iklan.

Sebenarnya, pemasang iklan tidak melihat atau tidak terpaku pada mutu suatu program - bagus atau tidak - melainkan yang terpenting bagi mereka adalah berapa banyak pemirsa yang menontonnya (ditunjukkan oleh program rating).
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa stasiun televisi sebenarnya bukan menjual proram kepada pengiklan melainkan menjual pemirsa (model dibawah).


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program bermutu akan menghasilkan popularitas dan image yang kuat serta pemirsa yang besar jumlahnya. Pemirsa yang besar jumlahnya akan menarik pengiklan dan pada gilirannya akan menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang besar. Pendapatan dan keuntungan yang besar akan membuat stasiun mampu untuk memproduksi dan mengadakan program yang semakin kompetitif. Namun sebaliknya, apabila stasiun tidak mampu membangun popularitas dan image-nya pada tingkat yang wajar maka stasiun yang bersangkutan tidak akan mampu merebut kue iklan , pendapatan sangat rendah , tidak menguntungkan (rugi), sehingga juga tidak akan mampu mengadakan program yang kompetitif. Apabila kondisi ini yang tercipta, pemilik atau investor perlu turun tangan , tanpa suntikan dana dari pemilik (investor) stasiun akan kolaps dengan sendirinya.
Ungkapan lainnya, program yang bagus dan pendapatan iklan ibarat ayam dan telur.

PEMASARAN DAN PENJUALAN

Strategi pemasaran tidak dapat dilepaskan dari strategi program dan programming dari stasiun secara keseluruhan.
TV Lokal mempunyai kekuatan tersendiri yaitu pada “kelokalannya” yang tidak mungkin disaingi oleh stasiun jaringan sebagai pesaing terberat stasiun lokal. Persoalannya tinggal lagi bagaimana menciptakan , memproduksi dan mengemas program yang berkonten lokal, seperti: berita lokal, kegiatan (peristiwa) masyarakat lokal, peristiwa hangat lokal, pendidikan dan hiburan lokal. Secara ringkas perlu diterapkan strategi differentiation pada programming. Disamping itu perlu pula diterapkan strategi segmentation pada program dan waktu yang tepat dan stategi overall cost leadership.
Dari ketiga strategi diatas dapat diturunkan strategi operasional program dan penjualan yang sesuai.
Dalam kaitan strategi penjualan, Charles Warner & Joseph Buchman mengatakan bahwa strategi yang biasa diterapkan oleh para broadcasters adalah :
1. To sell solution to advertising problems
2. To create value.

Untuk menjalankan strategi diatasTV Lokal sangat penting untuk memiliki tenaga programming dan tenaga penjualan yang kuat , terdidik dan terampil dibawah supevisi manajer program dan manajer penjualan yang menguasai bidangnya. Bagi stasiun yang tidak mau mengambil risiko rugi besar tentu telah mempersiapkan kedua kelompok tenaga tersebut jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak mengherankan bahwa stasiun televisi jaringan (TV Swasta Nasional) yang tergolong sukses saat ini - berpusat di Jakarta - semuanya menggunakan jasa konsultan dan disupervisi tenaga ahli berpengalaman pada tahun-tahun awal pengoperasiannya. Mereka benar, karena bisnis televisi hanya memberikan dua opsi yaitu: untung besar atau rugi besar.

PERSAINGAN DAN EKSISTENSI

Saingan terberat TV Lokal adalah TV Jaringan (TV Swasta Nasional) yang beroperasi dari Jakarta disamping TV Lokal lainnya di daerah yang sama.
Menghadapi persaingan dari TV Jaringan ini tidak ringan karena program TV Jaringan telah lebih dahulu digandrungi oleh masyarakat daerah bahkan mungkin digunakan sebagai barometer untuk mengukur dan menilai program TV Lokal. Sehingga masalah yang dihadapi TV Lokal adalah bagaimana merebut minat pemirsa tersebut.
Terlepas dari kondisi daerah masing-masing (terutama apabila kondisi ekonomi cukup mendukung), dengan menerapkan secara benar dan konsisten strategi diatas kiranya TV Lokal akan mampu bersaing dan eksis di daerahnya.

Jakarta, 27 Oktober 2005

W.W

fAVORITE SITE: www.tribun-timur.com

Kamis, 14 Februari 2008

TV Lokal, Kerja Sama yang Bermasalah


http://www.tribun-timur.com/view.php?id=63993&jenis=Makassar

Kamis, 14-02-2008 | 17:58:37
Infokom Parepare Kerjasama Dengan Stasiun TV Tak Resmi
Laporan: Ridwan Putra, tribuntimurcom@yahoo.com

Parepare, Tribun - Program kerjasama informasi dan publikasi antara Kantor Infokom Parepare dengan stasiun televisi kabel Cable Televisi (CTV) Parepare disoroti dan dipersoalkan unsur masyarakat dan kalangan media massa setempat.

Kantor Infokom dianggap salah sasaran mengalokasikan anggarannya di APBD 2008 sebesar Rp 45 juta kepada CTV untuk program penyiaran informasi dan publikasi kegiatan pemerintah karena CTV sendiri belum memiliki legalitas penyiaran.

Hal itu terungkap dalam pengaduan unsur masyarakat bersama Aliansi Wartawan Parepare (AWP) kepada anggota dewan di ruang Wakil Ketua DPRD Achmad Ridha Ali, Kamis (14/2).

Juru bicara AWP Arufiddin Beddu dan Amir Made Amin dari media cetak lokal di Parepare menyebutkan, CTV tidak memiliki rekomendasi penyiaran dari Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) Sulsel dan Departemen Informasi dan KOmunikasi.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPRD Achmad Ridha Ali didampingi Anggota Panitia Anggaran Muh Haidir mengatakan, laporan pengaduan tertlis tersebut segera disodorkan ke Komisi A untuk dicermati.

Haidir sendiri mengaku kecolongan jika ada anggaran APBD 2008 untuk Infokom digunakan untuk program kerjasaam dengan CTV Parepare yang belum memiliki legalitas itu.(*)

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (rir)

Jumat, 18 Januari 2008

Pengelola TV Lokal Seluruh Indonesia Kumpul di Makassar

13 April 2005 - Tribun Timur Makasar. www.tribun-timur.com


Makasar. Pengelola TV Lokal Seluruh Indonesia Kumpul di Makassar Makassar, Tribun Para pengelola televisi lokal dari seluruh Indonesia berkumpul di Makassar. Pengelola TV yang tergabung dalam Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) melakukan rapat kerja khusus di Comfort Hotel Royal Makasar, Selasa (12/4). Ketua ATVLI, ABG. Satria Naradha, mengatakan untuk mengukuhkan eksistensi televisi lokal yang ada, ATVLI mendesak KPI agar lebih tegas dalam menjalankan tugasnya dalam meregulasi penyiaran, sesuai UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

”Mereka harus menekan monopoli televisi swasta nasional yang mendomisi siaran dari Jakarta. KPI harus memberi ruang bagi televisi lokal untuk mengembangkan jaringannya dan memberikan frekuensi yang lebih besar pada mereka,” katanya.

Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel, Hidayat Nahwirasul, mengatakan, Sulawesi Selatan mendapat 14 frekuensi untuk pemancar televisi. Sebanyak 10 frekuensi sudah di pakai televisi swasta nasional yang membuka biro di Makassar. Dua frekuensi lainnya di pakai TV digital, satu di pakai oleh TVRI sedangkan sisanya dimiliki TV lokal di Makassar.

Menurut Hidayat, kedepan, bila ada televisi swasta yang mau beroperasi di Makassar, masih ada kesempatan dengan memanfaatkan jalur frekuensi televisi digital. Satu frekuensi televisi digital mampu memancarkan empat stasiun televisi analog.

Aset Daerah

Wali kota Makassar Ilham Arief Sirajudin menyatakan, kehadiran televisi lokal merupakan aset daerah. Aset ini diharapkan memainkan peran efektif dan maksimal dengan tangannya.

“Kehadiran Makassar TV harus mampu memberikan warna serta mewakili kepentingan warga Makassar. Selama ini televisi swasta di Makassar sangat membantu saya dalam mengetahui denyut keluhan masyarakat kota Makassar,” sajiannya perlu dikemas secara Profesional.

Direktur Pemasaran Makassar TV, Iin Djosoef Madjid optimis jika televisi lokal bisa berkembang pesat di tahun-tahun mendatang. “ Saya yakin karena makin hari peminat yang beriklan di Makassar TV makin meningkat,” katanya.

Ketua YLKI Sulsel Zohra Andi Baso menyatakan, sebagai penikmat televisi lokal lebih meningkatkan tayangan edukatif. “Jangan mengedepankan tayangan pornografi dan mistik, sebagi mana yang di tayangkan TV swasta nasional yang ada,”ujarnya.

Frekwensi TV

  • - 14 frekuensi jatah SulSel
  • - 10 dipakai TV swasta nasional
  • - Dua dipakai TV digital
  • - Satu dipakai TVRI
  • - Satu dipakai TV Lokal