Sabtu, 16 Februari 2008

Erick Thohir, tvOne, Republika, dan Obsesinya

Obsesi Erick Thohir, pengusaha muda salah satu pemilik tvOne. Simak!

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=326448

Sabtu, 16 Feb 2008,

Orang-Orang Muda Pengelola Bisnis Pertelevisian di Tanah Air (1)

Kongsi Trio yang Berobsesi Tampil Unik
Erick Thohir yang dikenal sebagai Presdir Mahaka Group terus memperkuat bisnis medianya. Pria kelahiran Jakarta itu tercatat sebagai salah satu di antara orang-orang muda dalam bisnis pertelevisian. Bagaimana sebenarnya kiprah orang-orang muda di industri ini?

IWAN UNGSI-SUYUNUS R., Jakarta

PLENARY Hall di Jakarta Convention Center pada malam Valentine (14/2) itu terlihat ramai. Mobil-mobil memenuhi ruang parkir. Demikian pula, pengunjung, termasuk para menteri, artis, dan tokoh media, memadati balairung yang biasa digunakan pameran berskala internasional di kawasan Senayan itu.

Malam itu adalah perhelatan peluncuran tvOne, nama stasiun televisi yang sebelumnya bernama Lativi di bawah naungan PT Lativi Media Karya. Tiga sosok tampak terlibat dalam obrolan akrab. Mereka adalah Fofo Sariaatmadja (SCTV), Erick Thohir (tvOne), dan Anindya N. Bakrie (antv). "Kapan-kapan lunch bareng, ya?" kata Erick kepada kedua sejawatnya itu.

Erick adalah nakhoda baru televisi yang dahulu dimiliki pengusaha sekaligus mantan Menaker Abdul Latief itu. Ditemui di kantornya, PT Lativi Media Karya di Jalan Rawa Terate II/2, Kawasan Industri Pulogadung, Erick mau blak-blak kepada Jawa Pos tentang bagaimana awal dirinya menerjuni bisnis pertelevisian tanah air.

Suatu hari, kata Erick, dirinya bertemu dengan Anindya N. Bakrie dan Presdir Recapital Rosan P. Roslani. Erick dan Anindya bukan orang baru di bisnis media. Lewat PT Abdi Bangsa Tbk, Erick adalah pemilik harian Republika. Demikian pula, Anindya dikenal sebagai keluarga pemilik antv. Ketiga orang itu kemudian sepakat berkongsi membeli PT Lativi untuk membangun tvOne.

"Jadi, awalnya kami membentuk konsorsium yang diwakili saya (Grup Mahaka), Pak Anin (Anindya N. Bakrie, Grup Bakrie), dan Pak Rosan (Presdir Recapital Rosan P. Roslani)," katanya.

Dalam konsorsium itu, mereka berbagi tugas. Anin dan Rosan fokus ke masalah keuangan dan capital market. "Sedangkan saya lebih ke orang kerja aja. Orang yang day to day di industri medianya," ujar Erick yang juga pemilik radio One.

Tidak sedikit kocek yang harus dirogoh untuk mengakuisisi saham PT Lativi Media Karya dari pemilik lama. Erick menyebutkan angka Rp 1,3 triliun untuk mengubah Lativi menjadi tvOne. "Angka itu termasuk membayar utang ke Bank Mandiri," jelasnya.

Erick mengakui, mereka bertiga bermimpi membentuk suatu perusahaan media bersama yang unik. "Tidak hanya unik, tapi juga harus berkembang. Unik doang kalau gak berkembang buat apa kan," kata pria kelahiran 30 Mei 1970 yang juga president of Southeast Asian Basketball periode 2006-2010.

Tidak takut ketatnya bisnis televisi? Pemilik koran Republika itu menilai, banyak perbedaan antara dunia koran dan televisi. Meskipun, prinsip-prinsip jurnalisme keduanya tidak banyak berbeda.

"Banyak bedanya. Contohnya, kalau koran terbit harian, di TV itu kan tiap detik dan menit. TV itu lebih kompleks daripada koran," kata suami Elizabeth T. Thohir itu.

Menurut dia, koran dan TV adalah masalah kreativitas sumber daya manusia. Namun, di televisi masalah broadcast lebih ke segi teknik. Hal yang lain, dalam bisnis TV memang lebih berdarah-darah dalam proses modal awal. "Secara dana, pasti lebih besar TV dan secara operasional lebih kompleks TV," kata Presdir PT Trinugraha Food Industri, perusahaan pemilik brand Hanamasa, Pronto, dan Ya Kun Kaya Toast, itu.

Namun, lanjut Erick, beberapa aspek dalam jurnalisme koran bisa diimplementasikan ke TV. Misalnya, kecakapan menulis berita. "Di televisi itu tetap terpakai. Reporter TV harus bisa menulis. Itu juga sangat dibutuhkan," katanya.

Alumnus MBA jurusan marketing dari National University California, Amerika, itu mengatakan bahwa kalau orang koran ke bisnis TV, banyak yang bisa digunakan sebagai nilai tambahnya. Meski demikian, bukan berarti Erick sama sekali tidak pernah punya pengalaman di bisnis pertelevisian. Selain Republika dan berbagai media cetak, dia mengelola Gen-FM Jakarta, 101 FM Jakarta, dan Jak TV.

Keputusan berkongsi dengan Anindya N. Bakri yang sudah memiliki antv juga bukan tanpa pertimbangan. Erick tidak khawatir terjadi overlapping dengan antv. "Berbeda konsepnya. Sebab, antv kan general entertainment. Di situ Pak Anin dengan Star TV. Sedangkan di sini (tvOne, Red) lebih fokus pada news dan sportstainment," kata wakil presiden Hipmi periode 2005-2008 itu.

Logo tvOne juga penuh nilai-nilai filosofi yang ingin diusung pemiliknya. Warna merah putih menggambarkan Indonesia, sedangkan bulatan menggambarkan persatuan. "Kata One sendiri digunakan untuk membangkitkan motivasi untuk menjadi nomor satu. Jadi, secara individu maupun korporat harus menjadi nomor satu," paparnya.

Perubahan brand tvOne tidak hanya mengubah nama, tapi juga mengubah positioning yang sebelumnya memiliki SES (socio economic status) CDE (menengah bawah) menjadi ABC (menengah atas)

"Kami akan meninggalkan seks, horor, dan darah-darah yang tidak perlu. Jadi, punya platform yang berbeda. Program-program juga harus berubah total," lanjutnya.

Menurut dia, target untuk meraih share audience di atas 10 persen sangat mungkin tercapai. Sedangkan untuk rating, Erick mengakui bahwa angka 4-5 saja sudah cukup bagus. "Rating TV ini tidak akan tinggi karena bukan general entertainment TV. Ya, seperti TV menengah, kayak Global (Global TV)-lah. Tapi, image kami kan berbeda. Image kami akan lebih tinggi," tambah ayah empat orang anak itu.

Karena dipunggawai orang-orang yang mengerti tentang pasar modal, pertengahan tahun ini PT Lativi Media Karya ditargetkan masuk pasar modal (IPO). Dana masyarakat itu akan digunakan untuk menambah modal kerja dan terus memperlebar penetrasinya.

Industri televisi di Indonesia akan semakin berkembang pada masa-masa mendatang. Dalam jangka menengah panjang, menurut Erick, akan terjadi konsolidasi dari berbagai pelaku industri tersebut. Itu akan terjadi tidak hanya di industri televisi, tapi juga di Industri media secara menyeluruh.

"Pers yang survive adalah pers yang dikelola secara bisnis. Walaupun, tanpa meninggalkan nilai-nilai pers itu sendiri. Yaitu, mesti fair dan mendahulukan public opinion daripada owner opinion," papar Erick.

Mengapa bos-bos televisi saat ini dipimpin jajaran eksekutif puncak yang berusia relatif muda, Erick menilai bahwa hal itu merupakan tuntutan alami industri. "Media dengan segala perubahan zaman akan menjadi bisnis anak muda atau paling tidak yang berjiwa muda. Sebab, bisnis ini sangat berbasis inovasi dan kompleks. Suka nggak suka, memang tidak mudah mengelola bisnis ini," katanya. (el)

Favorite site: www.tribun-timur.com

Tidak ada komentar: